hanya awan yang bergerak tanpa derak,
dan mata ini tak juga terpejam
dan lalu datang embun,
pipinya merona membawa dengkur lembutmu ke dalam angan
memberi ketenangan, sedikit,
hingga pelan-pelan aku terpejam, dan karam
(bandar lampung, 23 November 2009)
Awan, Embun, dan Gerak
02:45Surat Keenambelas
02:04Minggu, 15 November 2009
Untuk Perempuan dari Masa Depan-ku
Wahai kau yang selalu mengerling dari balik keinginan
Aku menulis surat ini ketika embun turun dan menjadi titik-titik air di ujung pengeras suara pada surau di desa tetangga. Sunyi sekali pagi ini. Hanya segelas kopi hitam kental dan tidak seberapa manis serta detik jarum jam dinding yang menjadi teman. Tapi tak apa, aku sudah terbiasa.
Surat kali ini tertulis dengan keraguan ketika kenyataan terasa memabukan. Ketika akhirnya kau datang dan mewujud di hadapanku. Tetapi, aku ragu. Apakah itu kau atau bukan. Pun demikian, tetap kusambut tanganmu yang sedikit pias kedinginan. Sedangkan keraguan, ah, toh aku bisa lebih tidak peduli.
Aroma, aura, dan mimpi-mimpi perempuan bersayap putih di bahunya itu sangat mirip dirimu. Terlebih ketika ia mengungkapkan tentang bentuk dan suasana dari rumah penuh cinta yang diidamkannya kelak jika ia berkeluarga. Membuatku semakin yakin jika perempuan itu adalah kau yang selama ini hanya menari-nari di pikiran dan puisiku.
Sedangkan keraguan itu muncul ketika ia tak jua menyinggung tentang surat-surat yang pernah aku tulis dan kirimkan. Tapi toh tetap kunikmti malam itu, karena bisa saja aku lebih tidak peduli. Kunikmati sepuas-puasnya. Karena, belum tentu kau akan mewujud kembali keesokan hari. Ah, anggap saja itu benar-benar kau.
Malam itu tak akan kulupakan. Terima kasih untuk bintang, karena telah mengirimkan pedarnya melalui sosok itu. Dan, terima kasih juga untuk matahari, karena mau lebih lambat terbit pagi itu. Tak lupa, untuk gardu ronda. Terima kasih karena telah meminjamkan bahunya untuk kita berteduh dari embun di tengah kota.
Ah, malam itu. Aku jadi teringat akan beberapa hal yang membuat aku kian menyayangimu. Binar matamu. Genggaman tanganmu. Tawamu, dan hal-hal lainnya. Betapa melayangnya aku. Sehingga, udara pun kurasa kalah ringan.
Kemudian, aku makin melayang saat kau tertidur di bahuku. Aku adalah manusia paling beruntung malam itu. Seorang bidadari bersedia merebahkan kepalanya yang harum di bahu hitam seorang budak.
Debar ini makin menjadi, tatkala dengan lembut dan perlahan meraih pangkuanku, lalu kembali terlelap di sana, bersama harummu yang tak hilang selama seminggu pada celana panjang hitamku.
Sungguh mengagumkan. Bahkan saat tidurpun kau tetap memesona. Lembut dengkurmu berpadu harmonis dengan degub jantungku.
Debar ini makin menggila. Lebih menggila lagi saat kau makin meraptakan pelukmu. mencari sedikit kehangatan dari telapak tanganku yang kasar dan kapalan. Sehingga, senandung pelanku lamat-lamat berhenti. Tak ada suara lagi. Malah, hanya bergetar.
Parasmu merona dalam peluk itu. Tangan kita berdua menyatu dalam untaian nada rindu. Aku terlalu bahagia. Sehingga, tak kupedulikan lagi tatapan orang-orang yang lewat lari pagi. Aku terlalu bahagia, hingga tak mampu mengucap satupun aksara.
Aku tahu, kau tidak pernah menyukai kontak fisik. Sedari dulu, bagimu, puisi dan segala bentuk macam aksara lebih mampu menghadirkan ekstase dibanding ciuman yang dalam dan panjang. Aku menyadari itu. Tetapi ini teramat hebat. Tak hanya jantungku yang berdebar. Kaki, mata, bibir, bahkan rambutku yang keriting ini pun ikut berdebar.
Pelan, aku menyentuhmu. Tanpa nafsu.
Kususuri alismu yang lebat hitam dan melengkung sempurna. Kuusap lembut kedua pipimu yang sedikit berjerawat. Kujawil hidungmu yang tidak seberapa aduhai. Kusapu bibirmu yang tidak pernah bergincu. Dan, kukecup dengan rasa syukur, kedua mata dan keningmu. Saksinya kertas koran yang tersipu.
Kau bisa mengatakan ini apologi, pembelaan, penyangkalanku. Tapi tak apa, kau tamparpun aku rela.
Kau tahu, aku sangat menyukai puisi. Dan, kau pun juga. Malam itu teramat berbunga. Indahnya membahana. Terlebih lagi, kau kali ini nyata. Aku ingin melukiskan itu semua dalam puisi. Sayang, aku tak membawa pena dan kertas. Aku ingin menulis puisi yang sempurna dan abadi tentang malam itu.
Maka, wajahmu menjadi kertasku. Jemari ini menjadi pena. Dan, debar ini menjadi tinta.
Kuguratkan perlahan. Kususupkan getaran debar-debar tersebut menjadi untaian bait-bait kontemplasi penuh rasa bahagia yang akan abadi disetiap kerut kulitmu. Puisi itu abadi di atas kanvas pemberian dari surga. Kau dan wajahmu.
Kutinggalkan puisi paling sempurna di dunia pada senyummu. Kutitipkan puisi paling indah di hidungmu. Kusesapkan puisi paling berbahaya pada kedua matamu. Dan, kutiupkan puisi paling abadi di aura kehidupan dan mimpi-mimpimu. Karena, aku tidak akan tahu, apakah kita akan kembali bertemu, esok atau lusa.
Posted in Surat Cinta Untuk Dia yang Tak Pernah Nyata | 0 komentar »
Three Cups of Tea: Mencari Damai Tanpa Perang
01:57
Petikan di atas adalah secuil pesan moral dari setumpuk pesan moral lainnya yang termuat dalam buku yang mengisahkan perjalanan hidup seorang manusia biasa dengan semangat, kepedulian, serta komitmen yang luarbiasa terhadap dunia pendidikan dasar anak-anak, khususnya anak perempuan.Adalah Greg Mortenson, seorang pendaki gunung berkebangsaan Amerika yang selalu berhasrat untuk menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia, K2 (8611 dmpl) yang berada di pegunungan Karakoram, Pakistan. Dua kali ia mengadakan ekspedisi, dan dua kali pula ia gagal. Pada suatu saat di tahun 1993, ditengah misinya yang gagal untuk menaklukan K2, puncak tertinggi kedua di dunia, yang terletak di wilayah Karakoram, Himalaya, Greg tersesat saat menuruni pegunungan.
Akibat rasa kelelahan yang amat sangat dan disorientasi akhirnya Greg jatuh pingsan dan ketika terbangun, dia sudah dikelilingi oleh orang-orang asing yang bersahabat di suatu desa bernama Korphe, yang bahkan tak pernah ada namanya di peta dunia, suatu tempat di wilayah Pakistan Utara.
Selama berbulan-bulan Greg dirawat di rumah Haji Ali, tokoh tertua di Korphe, yang kelak bagi Greg dianggap sebagai gurunya. Menikmati hari-hari pemulihannya di desa terpencil namun berlatang belakang pemandangan indah nan dramatis, Puncak K2, Greg menemukan kedamaian batin.
Namun dibalik keindahan puncak K2 yang sangat menantang untuk ditaklukan itu, ia menemukan sebuah "gunung" lain yang akhirnya menjadi obsesi seumurhidupnya kelak. Gunung tersebut lebih terjal dari gunung yang sebelumnya selalu ia impikan untuk menaklukannya. Gunung tersebut bernama "kebodohan".
Di desa Korphe, sebuah desa miskin dan terpencil yang berada di atap dunia, Greg menemukan gunung tersebut. Delapan puluh anak-anak (tujuhpuluh delapan anak laki-laki dan empat anak perempuan) bersekolah hanya dengan duduk bersimpuh melingkar di atas tanah yang membeku, dalam udara yang dingin dan dengan tertib mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru yang mengajar tiga hari dalam sepekan. Sebagian besar dari mereka menggunakan tongkat kayu sebagai “pensil” dan tanah sebagai “buku”. Yang lebih beruntung membawa batu tulis dan menulis diatasnya menggunakan tongkat kayu yang dicelupkan ke dalam lumpur dan air.
Kondisi tersebut disebabkan lantaran desa tersebut tidak mempunyai sekolah dan tidak mampu untuk membayar gaji guru. Pemerintah Pakistan tidak menyediakan guru untuk mereka, sehingga desa tersebut 'berbagi guru' dengan desa tetangga yang jaraknya sangat jauh.
Semangat anak-anak desa Korphe yang tetap mengikuti sekolah meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan tersebut membuat Greg Mortenson tersentak, bahwa ada gunung lain yang jauh lebih mengerikan dibanding K2. Kemudian ia berjanji untuk membuatkan sekolah di desa yang telah menerimanya dengan sangat baik tersebut. Sebuah janji yang tanpa ia sadari akan membuatnya menjadi sosok yang sangat diidolakan banyak orang kelak.
Dalam perjalanannya membangun sekolah di daerah terpencil tersebut bukan sekali dua kali ia menghadapi rintangan. Ia pernah mengalami diculik oleh suku bersenjata di Pakistan yang selalu curiga dengan orang asing. Ia pernah pula berada ditengah pertikaian dua kelompok penyelundup opium di daerah terpencil Afganistan saat hendak membangun sekolah di daerah tersebut. Tetapi, ketika mengetahui niat Greg untuk membangun sekolah bagi anak-anak di daerah-daerah miskin tersebut, Greg malah mendapatkan banyak sekali sekutu dan pendukung.
Kepribadian Greg yang menghargai tradisi asli daerah yang didatanginya, niatnya yang tulus, serta persahabatannya dengan beberapa orang suku asli yang telah sering membantunya dalam ekspedisi di pegunungan tertinggi di dunia tersebut membuatnya mudah diterima oleh beberapa suku lain. Meskipun ia seorang kristen. Hingga akhirnya setelah satu dekade, Greg telah membangun tidak kurang dari limapuluh satu sekolah dasar. Kisahnya adalah satu contoh yang sangat menakjubkan bagi orang-orang yang peduli dan bergerak di bidang pendidikan.
PENDIDIKAN ADALAH SENJATA
Bukan cerita tentang kehebatan Greg Mortenson yang telah berhasil membangun sekolah di daerah-daerah terpencil itulah makna sebenarnya isi dari buku setebal 630 halaman ini, melainkan sebuah diskursus tentang bagaimana pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam mencapai kehidupan yang damai.
"Saya bukan ahli militer," kata Mortenson. "Dan angka-angka ini mungkin saja tidak tepat. Tetapi, sepengetahuan saya sejauh ini kita telah meluncurkan 114 misil Tomahawk ke Afganistan. Sekarang coba pikirkan harga sebuah rudal seperti itu, yang diujungi sistem kendali Raytheon, yang saya kira berharga sekitar $840.000. Dengan uang sebanyak itu, Anda dapat membangun lusinan sekolah yang bisa menampung puluhan ribu siswa dan memberikan pendidikan seimbang, non-ekstremis pada mereka selama bergenerasi-generasi. Yang mana yang menurut Anda akan membuat kita lebih aman?" (hlm. 551).
Ketika Greg sedang membangun sekolah-sekolah di daerah terpencil itu, Amerika sedang mengadakan gerakan anti-teroris dengan mengebom sejumlah tempat di Afganistan yang disinyalir sebagai tepat persembunyian kelompok ekstremis, Al-Qaedah, yang dituduh sebagai dalang dari penghancuran World Trade Center dan Pentagon, dikenal sebagai peristiwa 11/9. Dan, Pakistan sedang gencar-gencarnya berperang dengan negara tetangganya, India, dalam perang yang telah berlangsung selama sembilanbelas tahun di ketinggian pada daerah perbatasan antara dua negara tersebut.
Afganistan luluh lantak oleh bom. Kehidupan seakan-akan mati. Sekolah-sekolah di negara itu rusak berat akibat peperangan. Di Kabul, salah satu provinsi di Afganistan, hanya 20% dari 159 sekolah yang cukup fungsional untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar, selebihnya diadakan di gedung-gendung yang masih cukup layak. Guru-guru harus berjuang keras untuk menampung sekitar tigaratus ribu siswa secara bergantian.
Milyaran juta dollar dikeluarkan untuk biaya perang, baik itu Amerika yang meluluhlantakan Afganistan maupun Pakistan dan India yang perangnya tidak pernah usai. Terorisme dan perang telah merenggut kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak berjuta-juta anak-anak di pedalaman Himalaya itu.
Di televisi-televisi internasional kerap kali ditayangkan anak-anak -yang seharusnya duduk manis dan menerima pelajaran sambil menulis di buku catatan, memegang senjata otomatis dengan raut wajah yang dimanipulasi agar sangar dan menderita. Tempat mereka adalah di sekolah, bukan di medan tempat orang saling mencacah. Mortenson menyaksikan betapa kelompok radikal rajin merekrut remaja belasan tahun. Hanya dengan imbalan US$ 300, anak-anak itu menyerahkan hidup mereka kepada Taliban. Ibu-ibu yang berpendidikan, menurut Mortenson, lebih kuat melindungi anak mereka dari godaan untuk bergabung dengan kaum militan. “Itu sebabnya, mendidik perempuan sangat penting,” katanya.
Kerja keras Mortenson membuktikan bahwa pendidikan adalah cara jitu menekan terorisme, bukan bom atau rudal. Seperti tonik, dia memberi darah baru bagi masyarakat yang miskin dan terabaikan. Pendidikan sanggup membuka cakrawala di tempat sedingin dan setinggi Himalaya.
Lebih dari sekadar membangun gedung, Mortenson adalah contoh tentang bagaimana merangkul sesama manusia dengan tulus. Kerja humanitarian yang tidak membuat orang menadahkan tangan, tapi menempatkan orang yang ditolong dalam posisi bermartabat. Membuat Mortenson menjalin sebuah hubungan yang unik dimana saat itu, dunia barat merasa phobia dengan 'janggut dan sorban'.
Bahkan Letnan Kolonel Christopher Kolenda, perwira Amerika yang bertugas di Afganistan, memuji kerja Mortenson. “Saya yakin, solusi jangka panjang di Afganistan adalah pendidikan,” katanya. Sebuah paradoks terjadi. Di satu sisi, pemerintahan Bush mencoba menghancurkan terorisme dengan cara instan dan kejam (perang dan bom). Di sisi lain, Mortensen mencoba 'menghancurkan' terorisme dengan jalan yang sangat berbeda dengan Bush, pendidikan. Sebuah cara yang sangat damai dan manusiawi, yang tentu saja juga berlaku untuk Indonesia.
Ditulis bersama jurnalis, David Oliver Relin, dengan gaya jurnalisme sastrawi yang mudah dibaca dan dicerna serta menyajikan fakta dan komentar-komentar dari orang berkecimpung dalam pembangunan pendidikan di pegunungan Himalaya tersebut. Buku ini sangat disarankan untuk dibaca oleh orang-orang yang peduli dengan masalah pendidikan, terlebih lagi bagi yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.
==========
DATA BUKU
==========
Judul: Three Cups of Tea
Pengarang: Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Jumlah halaman: 630 halaman.
Penerbit: Penerbit Hikmah
Cetakan: III, Januari 2009
Posted in Bacaan Ringan di Pojok Ruang | 0 komentar »
Masa Lalu
07:04Hari ini aku bertemu kembali dengan masa lalu
Dan hari ini aku pun merasa sia-sia
Kemudian hari ini dia bermain-main dengan masa laluku
Dengan tawa ia coba menyiksa
Dengan senyum ia bisa menikam
Dan lagi, hari ini aku merasa sia-sia
Posted in Aliran Kata | 0 komentar »
Dimana Kau Teman Bercerita
07:01dimana kau teman bercerita
di sini ada sepenggal dongeng tentang aku
tentang aku yang terjatuh
tentang aku mengaduh
ada dimana kau teman bercerita
di sini terselip selembar naskah cerita tentang dia
dia, yang kini tertawa
yang kini selalu bersendawa
mari ke sini teman bercerita
beri satu tanda titik di tengah-tengah kalimatku
yang selalu bercerita tentang dia
yang selalu menjadi tanda koma, tanda tanya di setiap cerita
ah! ternyata ada di sana kau teman bercerita
kemarilah
temani aku bercerita
tentang aku yang kini di sampingmu
bercerita tentang dia yang masih tertawa atas aku
Posted in Aliran Kata | 0 komentar »
.jpg)